News

UNIT SYARIAH ADIRA INSURANCE AKAN REVISI TARGET PREMI

Posted on 03 Agustus 2013

JAKARTA – Unit Usaha Syariah PT Asuransi Adira Dinamika (Adira Insurance) berencana merevisi target pendapatan preminya pada tahun ini menjadi Rp168 miliar Rp163 miliar dari target awal Rp178 miliar. Menurut direksi, revisi ini akan dilakukan jika tidak ada peraturan baru yang diluncurkan regulator untuk menstimulus industri syariah.

Bimo Kustoro, Sharia Division Head Adira Insurance, mengatakan saat ini industri syariah membutuhkan peraturan yang dapat menstimulus perkembangan syariah. Pasalnya, industri syariah akan sulitbersaing dengan konvensional. “Kebijakan uang muka bagi pembiayaan syariah membuat industri syariah tidak dapat berkembang seperti tahun lalu,” ungkapnya.

Bimo mengaku setuju dengan adanya aturan tentang uang muka bagi industri Multifinance syariah. Namun, seharusnya besaran ketentuan uang muka bagi pembiayaan syariah lebih kecil jika dibandingkan dengan konvensional. Pasalnya, industri syariah baru berkembang, berbeda dengan industri konvensional yang lebih dulu berkembang.

Rencana revisi target ini diagendakan perusahaan karena kinerjanya kurang optimal. Hingga April 2013, perusahaan baru membukukan pendapatan premi sebesar Rp 24 miliar. Pendapatan premi perusahaan pada periode yang sama tahun lalu hanya sebesar Rp 5 miliar. “Pendapatan premi tahun lalu masih kecil karena belum ada kebijakan uang muka,” katanya.

Kurang optimalnya pendapatan premi perusahaan karena penjualan syariah PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (ADMF) mulai turun. Padahal, bisnis asuransi kendaraan bermotor memberikan kontribusi sebesar 70% terhadap total pendapatan premi unit usaha syariah. Pada tahun ini, pendapatan premi Adira Insurance ditargetkan meningkat 9,8% dari realisasi tahun lalu sebesar Rp 153 miliar.

Indra Baruna, Presiden Direktur Adira Insurance, mengatakan walau pendapatan premi Unit Usaha Syariahnya kurang optimal, namun perusahaan tidak berencana merevisi total target pendapatan preminya sepanjang tahun ini. “Karena pastinya pendapatan premi dari syriah akan kembali lagi ke industri asuransi konvensional,” ujarnya.

Sepanjang tahun ini, Adira Insurance menargetkan kenaikan total pendapatan premi 14,28% menjadi Rp 2 triliun dari realisasi tahun lalu Rp 1,75 triliun. Pendapatan premi perusahaan pada tahun lalu melebihi target revisi sebesar Rp 1,7 triliun. Pada tahun lalu, Adira Insurance menurunkan target pendapatan preminya dari Rp 1,8 triliun akibat dampak penjualan produk asuransi kendaraan bermotor.

Kontribusi Turun
Hendry Yoga, Direktur PT Asuransi Astra Buana, perusahaan asuransi kerugian skala besar anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) mengungkapkan kebijakan uang muka bagi pembiayaan syariah akan berdampak pada pendapatan premi unit usaha syariah. “Apalagi lini bisnis utama kami sebesar 67% berasal dari kendaraan bermotor,” ungkapnya.

Pada tahun lalu, unit usaha syariah Astra Buana memperoleh pendapatan premi yang besar akibat pemberlakuan uang muka bagi pembiayaan konvensional. “Tahun lalu, dari kontribusi unit syariah sebesar 8,7% terhadap total pendapatan premi Rp 3,056 triliun atau senilai Rp 265,8 miliar,” ujarnya. Pengenaan uang muka bagi industri multifinance syariah akan menurunkan kontribusi unit usaha syariah menjadi sekitar 4,7% sama seperti 2011.

 


Facebook Twitter